Sabtu, 02 Juni 2012

Cerita Ringkas 5 Sisipan Dalam Mahabharata

Garuða 

 si Raja Burung 

(1) Kelahiran Garuða

  • Garuða adalah raja dari semua jenis burung.
  • Kaúyapa, cucu Brahmà, putra Marìci mengawini delapan putri Dakûa masing-masing bernama Aditi, Ditì, Danu, Kàlikà, Tàmrà, Krodhavaúà, Manù, dan Analà.
  • Dari perkawinannya dengan Tàmrà lahirlah lima orang putri, yaitu: Krauñcì, Bhàsì, Úyenì, Dhåtaràûþrì, dan Úukì.
  • Dari kelima putri itu melahirkan, masing-masing Krauñcì menjadi ibu burung hantu.
  • Bhàsì melahirkan Bhàsa (sejenis burung tertentu), dari Úyenì lahir burung gagak dan layang-layang.
  • Haýúa, Kalahaýúa, Koka, dan sejenisnya (berbagai jenis angsa) lahir dari Dhåtaràûþrì.
  • Dari Úukì lahirlah Nalà, dari Nalà lahirlah Vinatà.
  • Vinatà melahirkan dua orang putra bernama Aruóa dan Garuða (Vàl.Ràm.Àraóyakàóða 15).
  •  
  • Di dalam Mahàbhàrata (Àdiparva 23) dijelaskan tentang kelahiran Garuða sebagai berikut.
  • Kaúyapa sangat senang dilayani oleh istrinya yakni Vinatà dan Kadrù menanyakan kepadanya apa yang akan dimintanya.
  • Kadrù meminta supaya dia mempunyai putra ratusan nàga (ular), Vinatà memohon mempunyai dua orang putra namun supaya lebih sakti dan lebih gagah berani dibandingkan dengan ratusan nàga putra Kadrù.
  • Setelah memberikan anugrah seperti tersebut, Kaúyapa masuk ke dalam hutan.
  • Kemudian Kadrù diberikan seratus butir telur dan Vinatà dua butir telur.
  • Oleh kedua wanita, telur-telur yang diberikan itu diperam dalam belanga yang hangat dan setelah 500 tahun, telur-telur milik Kadrù menetas dan lahirlah berbagai jenis ular besar dan kecil.
  • Telur yang dimiliki Vinatà ternyata belum menetas.
  • Ia iri melihat Kadrù yang bermain-main dengan putra-putranya tersebut.
  • Vinatà kemudian memecahkan telor yang belum masanya menetas secara rahasia, ternyata seorang anak lahir dalam keadaan tubuhnya belum lengkap.
  • Anak tersebut dinamakan Aruóa.
  • Aruóa sangat marah kepada Vinatà karena memecahkan telur yang belum masanya menetas dan mengutuknya bahwa ia akan menjadi budaknya Kadrù dan Aruóa.
  • Kutukan Aruóa akan berakhir lima ratus tahun berikutnya, dan Vinatà akan dibebaskan dari perbudakan oleh anak yang lahir dari satu telur lainnya.
  • Setelah memberi tahu ibunya tentang hal tersebut Aruóa terbang ke angkasa kemudian ia menjadi kusir kereta Dewa Sùrya.
  • Setelah lima ratus tahun berlalu telur itu menetas dan dari padanya ke luar burung Garuða yang memancarkan cahaya, dan kemudian terbang ke angkasa.
  • Badannya bercahaya seperti cahaya matahari.
  • Cahaya para Dewa redup oleh kerasnya pancaran cahaya Garuða.
  • Para Dewa menanyakan mengapa hal tersebut terjadi kepada Dewa Agni.
  • Dewa Agni menjelaskan tentang kelahiran Garuða dan cahayanya sama besarnya dengan cahaya Dewa Agni.
  • Para Dewa semuanya mendatangi Garuða dengan menundukkan kepala memberi penghormatan kepada Garuða dan meminta supaya cahayanya diredupkan dan kembali kepada ibunya yang masih mengalami perbudakan.

(2) Perbudakan Vinatà

  • Pengadukan lautan susu (Kûiràróava) dilakukan sebelum Garuða lahir.
  • Dewa Indra mengambil kuda bernama Uccaiáúrava yang ke luar ketika acara pengadukan lautan susu tersebut.
  • Terjadi pertengkaran antara Kadrù dan Vinatà tentang warna ekor kuda tersebut.
  • Kadrù mengatakan warna kuda itu hitam, sedang Vinatà mengatakan warna kuda itu putih.
  • Selanjutnya mereka keduanya setuju untuk menyaksikan warna yang sebenarnya keesokan harinya, dan siapa yang salah dalam menebak ekor kuda tersebut akan menjadi budak bagi yang menang.
  • Para nàga menyemburkan bisa pada ekor kuda tersebut menjadikan ekor kuda tersebut tampak hitam.
  • Vinatà kalah dalam pertaruhan itu dan menjadi budaknya Kadrù.
  • Kadrù memerintahkan Vinatà untuk membawa anak-anaknya, yakni para nàga ke tengah samudra bernama Ràmaóìyaka (Ràmaóam).
  • Menurut ceritanya Vinatà mendukung Kadrù dengan kedua pundaknya, sedang Garuða membawa para nàga dengan pundaknya dan terbang ke angkasa.
  • Garuða tidak senang dengan pekerjaan sebagai budak tersebut dan membawa para nàga tersebut ke orbit matahari menjadikan para nàga menggelepar sangat kepanasan.
  • Atas permohonan Kadrù, Dewa Indra menurunkan hujan lebar menjadikan para nàga tersebut sadar dan segar kembali.
  • Selanjutnya mereka semua sampai ke pulau Ràmaóìyaka.

(3) Garuða pergi ke Devaloka

  • Garuða benar-benar sedih atas perbudakan yang menimpa ibunya, suatu hari ia mendesak Kadrù, menanyakan tentang persyaratan pembebasan ibunya dari perbudakan.
  • Kadrù menyatakan bahwa bila ia bisa mencarikan Amåta di Devaloka (kahyangan), maka perbudakan ibunya akan segera berakhir.
  • Garuða segera memberitahu ibunya bahwa ia akan berangkat ke Devaloka untuk mendapatkan Amåta.
  • Namun, bagaimana caranya bisa sampai ke Devaloka? Oleh Vinatà, Garuða disarankan untuk memakan para Niûadha sebagai makanan untuk sampai ke Devaloka.
  • Dalam perjalanan ke Devaloka mereka akan melewati sebuah pulau bernama Niûadhalaya.
  • Saat itu diberitahu jangan sampai memakan para Bràhmaóa yang ada di pulau tersebut.
  • Bagaimana membedakan antara Niûadha dengan para Bràhmaóa penghuni pulau tersebut.
  • Vinatà memberitahu, ketika menelan orang-orang Niûadha ada terasa panas, seperti terbakar, maka muntahkanlah, karena mereka para Bràhmaóa tersebut.
  • Vinatà merestui putranya dengan mengatakan bahwa sayapnya akan dilindungi oleh Dewa Vàyu, bagian bawah badannya akan dilindungi oleh matahari dan bulan, badan bagian atasnya oleh Vasu, dan bagian kepalanya oleh Dewa Agni.
  • Vinatà juga berjanji menunggu di sana sampai putranya itu kembali dari Devaloka.
  • Setelah memberi penghormatan kepada ibunya.
  • Garuða merancang untuk mencari Amåta.
  • Ketika ia mengibaskan sayapnya, seluruh empat belas jagat raya (Saptaloka dan Sapta Pàtàla) bergetar.
  • Setibanya ia di Niûadhalaya, ia menelan seluruh penduduk di sana dan demikian sampai di kerongkongannya ternyata seorang Bràhmaóa dan istrinya ikut tertelan.
  • Bràhmaóa tersebut dimuntahkan dan ia memberikan restu kepada Garuða untuk melanjutkan perjalanannya.

Selanjutnya ia tiba di hutan, tempat ayahnya Kaúyapa melakukan tapa.
  • Ia menyampaikan rencana dan memohon petunjuk apa yang ia harus makan.
  • Kaúyapa menjawabnya, sebagai berikut: “Kamu menemukan sebuah kolam tempat tinggal kura-kura dan gajah yang sejak lama bermusuhan.
  • Pada zaman yang silam adalah dua orang bersaudara bernama Vibhàvasu dan Supratìka merebutkan warisan orang tuanya.
  • Pada saat itu Vibhàvasu mengutuk Supratìka menjadi seekor gajah.
  • Sebaliknya Supratìka juga mengutuk Vibhàvasu menjadi seekor kura-kura.
  • Anakku Garuða, engkau boleh memakan gajah dan kura-kura tersebut.
  • Semoga perjalananmu untuk memperoleh Amåta berhasil sukses!”.
  • Setelah mohon restu dan meninggalkan ayahnya, Garuða mengambil gajah dan kura-kura tersebut dengan paruhnya dari kolam tersebut.
  • Pohon-pohon kayu pada rebah terangkat akarnya oleh kibasan sayap Garuða dan tidak mendapatkan tempat yang baik untuk menikmati kedua santapannya tersebut.
  • Ketika ia melanjutkan terbangnya, ia melihat sebuah pohon yang besar dan cabang-cabangnya melingkar seratus yojana.
  • Demikian Garuða hinggap di salah satu cabangnya, tiba-tiba cabangnya tersebut jatuh ke bawah.
  • Pada cabang yang hancur tersebut ia menemukan para pertapa Bàlakhilya melakukan tapa dengan kepala tergantung ke bawah.
  • Khawatir para pertapa itu akan jatuh ke tanah, Garuða melanjutkan terbangnya sambil membawa dengan paruhnya cabang kayu tempat para pertapa itu melakukan tapanya.
  • Ia tidak menemukan tempat untuk menyelamatkan para pertapa tersebut.
  • Oleh karena itu ia kembali ke Gunung Gandhamàdana dan melihat Kaúyapa yang meminta maaf kepada para pertapa Bàlakhilya atas nama anaknya dan juga menjelaskan tentang misinya untuk memperoleh Amåta.
  • Para petapa Bàlakhilya tersebut senang atas permohonan maaf itu dan merestuinya untuk menuju ke Gunung Himàlaya.
  • Seperti dinasehatkan oleh Kaúyapa, Garuða menyelamatkan cabang kayu tersebut ke sebuah puncak gunung yang tidak ada penghuninya.
  • Garuða memakan gajah dan kura-kura di sana untuk selanjutnya terbang menuju Devaloka (Àdiparva 29.30).

(4) Para Bàlakhilya mengutuk Dewa Indra

  • Beberapa lama sebelum kedatangan Garuða ke Devaloka, tampak tanda-tanda yang tidak baik muncul di sana.
  • Dewa Indra meminta Båhaspati untuk memeriksa tanda-tanda tidak baik itu.
  • Båhaspati dengan mata dewatanya melihat Garuða sedang mendekati Devaloka untuk memperoleh Amåta, dan menjelaskan kelahiran Garuða dari kekuatan tapa yang dilakukan oleh Kaúyapa dan para Bàlakhilya.
  • Dewa Indra dan Dewa-Dewa lainnya bersiap-siap menjaga kendi Amåta dan menjaganya jangan sampai ada yang menyerangnya.
  • Demikian Garuða lahir dari kekuatan tapa para Bàlakhilya, demikian juga Dewa Indra menghadapi kesulitan untuk mengutuk para Bàlakhilya.
  • Pada zaman dahulu, Kaúyapa prajàpati memulai sebuah Yajña (Agnihotra) yang sangat menakutkan untuk memperoleh putra, dan Indra, juga para Bàlakhilya ditugaskan oleh Kaúyapa untuk mengumpulkan kayu api.
  • Bàlakhilya yang tingginya sebesar ibu jari, jumlahnya lebih dari enam puluh ribu orang, membawa kayu api sangat sedikit.
  • Dewa Indra yang dengan mudah mengangkat kayu api tertawa melihat Bàlakhilya yang tubuhnya sangat kecil-kecil.
  • Marah karena merasa dihina, para Bàlakhilya itu pindah tempat tidak jauh dari tempat itu dan melakukan Yajña (Agnihotra) dengan tujuan untuk menghadapi sikap Dewa Indra yang ketakutan dan memohon perlindungan Kaúyapa untuk menenangkan para Bàlakhilya.
  • Mereka meneruskan Yàgaúakti (kekuatan Yajña) mereka kepada Kaúyapa dan sebagai akibatnya lahirlah seorang anak yang akan membunuh Dewa Indra.
  • Demikianlah, Dewa Indra menghindarkan diri dari kemarahan para Bàlakhilya.
  • Setelah selesai melaksanakan Yajña, Vinatà datang menghadap Kaúyapa dan merestuinya untuk melahirkan putra yang tiada tandingannya dan sangat sakti, itulah Garuða (Àdiparva 30). 

(5) Amåtakalaúapahraóam (dilarikannya kendi Amåta)

  • Garuða mendekati kendi Amåta, dan Viúvakarma yang menyerang pertama jatuh ke tanah.
  • Gelombang debu beterbangan karena kibasan sayap dari Garuða membuat siapa saja menjadi buta.
  • Demikian pula para Dewa dan Dewa Indra juga mengalami hal yang sama, matahari dan bulan, semuanya berusaha menyerang Garuða, namun semuanya kalah, dan Garuða memasuki tempat kendi Amåta disimpan.
  • Dua roda berputar mengerikan mengelilingi kendi Amåta tersebut dan siapa saja yang mencoba mendekatinya akan hancur berantakan oleh putaran roda tersebut.
  • Di bawah roda itu terdapat dua ekor ular ràkûasa dengan matanya yang besar dan mulutnya yang menganga seperti kobaran api, dan ular itu tidak pernah memejamkan matanya.
  • Siapa saja yang melihat matanya langsung saja menjadi buta.
  • Garuða dengan kibasan sayapnya membuat debu beterbangan dan membuat ular tersebut menjadi buta.
  • Ular tersebut dipatuknya, tubuhnya dihancurkan berkeping-keping, ketika itu Garuða sudah mendekati tempat penyimpanan kendi Amåta tersebut.
  • Ia menghancurkan roda-roda itu, demikian pula mesin penggeraknya, dan dengan paruhnya ia mengambil kendi Amåta dan menerbangkannya ke angkasa.
  • Sayapnya menutup cahaya matahari.
  • Mahàviûóu kagum dengan kehebatan Garuða dan meminta mengajukan permohonan kepadanya.
  • Garuða memohon supaya Mahàviûóu berkenan menjadikan ia sebagai vahana (kendaraan)-nya dan tanpa mencicipi Amåta ia bisa hidup abadi.
  • Mahàviûóu memenuhi kedua permohonannya tersebut.

(6) Garuða menjadi sahabat Dewa Indra

  • Indra memukul dengan senjata Vajra sayap Garuða yang baru kembali dari tempat Mahàviûóu.
  • Pukulan itu tidak mempengaruhi tubuh Garuða, namun beberapa helai bulu Garuða melayang di angkasa.
  • Setiap orang yang melihat bulu tersebut menyatakan bahwa Garuða adalah Suparóa (ia yang bersayap indah).
  • Indra sangat takjub dan mendekati Garuða dan memintanya untuk dapat bersahabat serta kendi Amåta hendaknya dikembalikan.
  • Garuða menjawab bahwa ia akan mengembalikan kendi Amåta itu apabila ia diijinkan untuk menjadikan para nàga sebagai makanannya, dan Indra memenuhi permohonan itu.
  • Garuða berkata kepada Indra, “Bahwa saya mengambil kendi Amåta itu bukan untuk saya gunakan sendiri.
  • Para nàga menipu ibu saya dan menjadikan budaknya, dan ia akan dibebaskan sebagai budak bila kendi Amåta ini diberikan kepada para nàga itu.
  • Tuan boleh mengambilnya saat saya menyerahkan kendi Amåta itu, dan saya tidak berkeberatan terhadap hal tersebut”.
  • Indra dan Garuða selanjutnya menjalin persahabatan.

(7) Garuða menyerahkan kendi Amåta dan Indra menipu para Nàga

  • Garuða menyerahkan kendi Amåta itu kepada para nàga, yang menyarankan supaya tempat untuk menaruh Amåta ini dialasi dengan rumput lalang di lantainya.
  • Selanjutnya Garuða meminta sebelum menikmati Amåta itu, para nàga harus menyucikan diri dengan mandi terlebih dahulu.
  • Saat para nàga mandi Dewa Indra mencuri kendi Amåta ini dan membawanya kembali ke Devaloka.
  • Gagal menemukan Amåta setelah para nàga selesai mandi, mereka semua berebutan menjilat bekas-bekas Amåta pada daun lalang yang mengakibatkan lidah para nàga itu belah menjadi dua bagian.
  • Sejak saat itu para nàga disebut dvijìhva (yang artinya yang memiliki lidah bercabang dua).
  • Demikian Garuða berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan (Àdiparva 34).

(8) Pohon ara yang cabangnya dihancurkan oleh Garuða dan Laòkà

  • Seperti telah dijelaskan ketika Garuða pergi menuju Devaloka ia beristirahat di sebuah cabang pohon ara.
  • Pohon itu disebut Subhadra di dalam Ràmàyaóa.
  • Ràvaóa melihat pohon tersebut dan para åûi duduk di sekitarnya dan membuat Garuða duduk pada cabangnya (Vàl.Ràm.
  • Àraóyakàóða 35.26).
  • Ada cerita yang berhubungan antara pohon ara dengan Laòkà.
  • Garuða seperti dinasehati oleh Kaúyapa yang mencucuk cabang pohon tempat bergantungan para Bàlakhilya sangat khawatir terhadap keselamatan mereka, menerbangkan cabang pohon tersebut terbang ke arah ke sana ke mari.
  • Ketika terbang di atas samudra, ketika cabang pohon itu mau ditempatkan muncul sebuah pulau dari puncak sebuah gunung, kemudian itu dikenal pula dengan nama Laòkà (Kathàsaritsàgara, Kathàmukhalaýbaka, Taraòga 4).

(9) Garuða, Saubhari, dan Kàliya

  • Garuða selalu menimbulkan kebencian dan ketakutan bagi para nàga, dan kini Dewa Indra mengijinkan Garuða memakan para nàga yang berkeliaran untuk menjadi mangsanya.
  • Garuða memilih para nàga yang mengembara.
  • Ia mulai memangsa para nàga satu persatu.
  • Berkenaan dengan hal tersebut, para nàga mengadakan pertemuan dalam sebuah pertemuan tertutup, dan mengajukan usulan kepada Garuða bahwa setiap hari akan ada satu ekor nàga yang tidak perlu dipilih akan disantap.
  • Garuða menerima usulan mereka.
  • Setelah beberapa lama, para nàga kembali menyampaikan usulan untuk mengadakan Sarpa-Bali (persembahan ular) dan siapa yang ke luar dari upacara tersebut dapat menjadi santapannya.
  • Garuða menyetujui juga usulan tersebut.
  • Menurut persetujuan terbaru, setiap hari seekor nàga yang ke luar dari upacara tersebut dan menghadap Garuða untuk menjadi makanannya.
  • Kàliya tidak menyetujui keputusan tersebut dan menganggap bahwa Garuða tidaklah memiliki kekuatan yang hebat.
  • Dan, Garuða yang mengetahui kesombongan Kàliya menantangnya untuk bertarung di Sungai Kàlindì, yang merupakan tempat tinggal dari Kàliya.
  • Ketika pertempuran berlangsung, kibasan sayap Garuða menyebabkan air Sungai Kàlindì naik ke angkasa dan membasahi seluruh tubuh Åûi Saubhari yang saat itu melakukan tapa mengutuk bahwa tubuh Garuða akan hancur berkeping-keping menjadi seribu bagian bila Garuða sampai memasuki wilayah yang akan datang, dan oleh karena itu wilayah itu merupakan wilayah yang terlarang bagi Garuða untuk mengunjunginya.
  • Beberapa lama kemudian Kàliya tinggal di tempat itu.
  • Sebuah pohon kadamba tumbuh lebih lama di tempat itu karena dipengaruhi oleh racun Kàliya.
  • Pohon itu akan tumbuh lebih lama lagi karena menjadi tempatnya Garuða beristirahat setelah kembali dari Devaloka dengan membawa Amåta (Bhàgavata Daúama Skandha).

(10) Persahabatan Garuða dengan Sùryavaýúa

  • Raja Sàgara dari Sùryavaýúa mempunyai istri bernama Sumatì, kakak Garuða, dan inilah cerita di balik perkawinannya itu.
  • Adalah seorang raja bernama Subàhu dari dinasti Sùrya.
  • Ia mengawini seorang bernama Yàdavì.
  • Dalam perkawinannya yang cukup lama mereka belum mempunyai keturunan.
  • Yàdavì semakin tua yang memungkinkan mempunyai putra sebagai pahala dari beberapa kali melaksanakan Yajña.
  • Namun, salah seorang istri Subàhu lainnya, madu dari Yàdavì tidak senang bila Yàdavì mulai hamil dan tidak menginginkan ia sebagai seorang ibu.
  • Ia mengatur rencana untuk meracun Yàdavì dan akibatnya kehamilan Yàdavì sampai tujuh tahun belum juga melahirkan putra.
  • Subàhu dan Yàdavì sangat sedih dan pergi ke hutan dan menjadi murid Maharûi Aurva.
  • Tidak berapa lama kemudian Subàhu meninggal, dan istrinya juga ingin mengakhiri hidupnya pada api pembakaran jenasah suaminya.
  • Maharûi Aurva mencegahnya jangan melakukan bunuh diri seperti itu, dan berkata: “Jangan anda melakukan tindakan yang demikian itu.
  • Anak yang tinggal dalam kandunganmu itu akan menjadi raja besar nanti dan memerintah seluruh dunia!”.
  • Yàdavì kemudian mengikuti nasehat Maharûi dan tidak jadi membakar diri dalam pembakaran jenasah suaminya.
  • Tidak lama setelah peristiwa itu lahirlah seorang anak laki-laki dan diberi nama Sàgara, yang berarti “ia yang dipengaruhi oleh racun walaupun ketika masih dalam kandungan ibunya”.
  • Anak ini kemudian menjadi raja terkenal bernama Mahàràja Sàgara.
  • Sàgara mengawini saudara tertua dari Garuða ketika ia masih remaja dan tinggal di pertapaan Maharûi Aurva, demikianlah cerita di balik perkawinan itu, cerita yang berhubungan dengan keadaan dan waktu sebelum Garuða lahir.
  • Vinatà, ibu dari Garuða, ketika ia bekerja sebagai budak Kadrù, suatu hari pergi ke tengah hutan untuk mengumpulkan kayu api untuk Kadrù.
  • Tiba-tiba terjadi hujan lebat yang menakutkan, Vinatà tidak menemukan jalan untuk pulang kembali ke rumah dan berkeliling di sekitar pertapaan seorang Saònyàsin.
  • Saònyàsin yang baik ini sangat kasihan dengan penderitaannya Vinatà dan memberkahinya dengan seorang anak, yang nantinya akan mampu membebaskan ibunya dari perbudakan.
  • Garuða adalah anak yang dimaksudkan itu.
  •  Sebelum kelahiran Garuða, ketika Kaúyapa dan Vinatà hidup bersama dengan putri mereka Sumatì, putra seorang åûi Upamanyu, putra Sutapa datang berkunjung menghadap mereka, dan berkata kepada Kaúyapa sebagai berikut.
  • “Selama perjalanan mengelilingi dunia, saya menyembah para Pitå (roh-roh suci leluhur) di Gayà dan saya diberitahu oleh mereka (para Pitå) akan dibebaskan dari kutukan hanya apabila saya bersedia untuk kawin dan sebagai seorang ayah.
  • Untuk itu saya memohon kasih yang terhormat untuk memperkenankan saya mengawini putri tuanku Sumatì sebagai istri saya”.
  • Vinatà tidak senang dengan ramalan ini.
  • Upamanyu marah atas penolakan in i dan mengutuk Vinatà apabila putrinya itu dikawinkan dengan putra Bràhmaóa yang lain, ia (Vinatà) akan mati dengan kepalanya akan pecah berkeping-keping.
  • Ketika masa berikutnya Vinatà sudah mantap untuk mengawinkan putrinya Sumatì, saat itu Garuða baru lahir.
  • Ia memikirkan masalah yang ia hadapi, kutukan itu adalah apabila dikawinkan dengan Bràhmaóa yang lain, kenapa tidak boleh bila Sumatì dikawinkan dengan seorang Kûatriya?.
  • Saat itu pula Vinatà pergi menemui Saònyàsin di hutan yang dahulu menyatakan bahwa Vinatà akan memperoleh keturunan seorang laki-laki yang sangat terkenal, dan selanjutnya Saònyàsin itu menyarankan Garuða untuk memohon nasehat dan bimbingan kepada Maharûi Aurva.
  • Ketika Garuða menghadap Maharûi Aurva untuk memohon nasehat tentang perkawinan kakak perempuannya Sumatì, Aurva menyarankan untuk dikawinkan dengan Mahàràja Sàgara sebagai pasangan pengantennya yang baik.
  • Dan, menurut ceritanya Sumatì dikawinkan dengan Sàgara, dan oleh karena itu Garuða mempunyai hubungan dengan raja-raja dari dinasti Sùrya (Brahmàóða Puràóa 16, 17, dan 18).
  • Enam puluh ribu putra lahir dari perkawinan Sàgara dengan Sumatì, yang semuanya mati terbakar menjadi abu oleh api yang keluar dari mata Maharûi Kapila.
  • Ketika Aýúuman, cucu Sàgara mengelilingi dunia untuk menemukan enam puluh ribu ayahandanya itu, di perjalanan ia bertemu dengan Garuða, yang menasehatinya hendaknya air suci Gaògà diturunkan ke bumi, dengan demikian kutukan yang dihadapi oleh ayahandanya itu bisa berakhir (Vàl.Ràm, Bàlakàóða 41).

 (11) Kesombongan Garuða


  • Seorang putri yang sangat cantik bernama Guóakeúì lahir dari Màtalì, kusir kereta Dewa Indra.
  • Dalam usaha menemukan seorang suami untuk Guóakeúì ia datang ke Pàtàlaloka diikuti oleh Nàrada, dan di sana Màtalì memilih seekor nàga yang agung bernama Sumukha sebagai menantu yang memberi harapan.
  • Namun, sebulan sebelum Garuða memakan Cikara, ayah dari Sumukha, dan juga diingatkan bahwa dalam waktu sebulan lagi Sumukha juga akan dimakannya.
  • Màtalì dan Nàrada menemui Sumukha di tempat kediaman kakeknya bernama Àryaka, yang sangat senang mendengarkan perkawinan cucunya Sumukha dengan putri Màtalì.
  • Namun rencana Garuða akan memangsa Sumukha dalam sebulan terakhir ini menjadikan semuanya marah dan wajahnya tampak garang.
  • Oleh karena itu mereka memohon kepada Dewa Indra untuk memohon jalan ke luar mengatasi masalah tersebut di hadapan Mahàviûóu.
  • Dewa Indra memperpanjang usia Sumukha dan mengawini Guóakeúì.
  • Perkawinan itu membuat marah Garuða yang kemudian mendatangi persidangan dan menghina Dewa Indra dan Mahàviûóu pada saat itu Mahàviûóu menjulurkan tangannya dan meminta Garuða untuk memegangnya.
  • Dan, ketika Garuða menempatkan tangan tersebut di atas kepalanya, ia merasakan sangat berat seperti seluruh jagat raya (Tribhuvana) ditempatkan di atas kepalanya.
  • Garuða memohon ampun dan mengaku kalah.
  • Mahàviûóu memukul telak kesombongan Garuða (Udyogaparva 105).

(12) Garuða menolong Gàlava

  • Gàlava adalah murid Viúvàmitra.
  • Suatu hari Dewa Dharma ingin menguji Viúvàmitra, dan ia pergi menuju pertapaan dengan menyamar sebagai Maharûi Vasiûþha dan meminta makanan.
  • Saat itu belum ada makanan yang tersedia di pertapaan, oleh karena itu Viúvàmitra memasak masakan baru memerlukan beberapa waktu lamanya, dan kemudian mempersembahkan bubur panas kepada tamunya.
  • Tamunya mengatakan bahwa ia pergi untuk beberapa menit dan kembali untuk menerima makanan itu, dan tamu itu (Dewa Dharma) pergi meninggalkan tempat itu, dan Viúvàmitra berdiri di sana dengan tangannya membawa nampan berisi makanan sampai tamunya kembali.
  • Ia berdiri di sana sampai seratus tahun lamanya, selama itu juga Gàlava berdiri di belakang gurunya.
  • Setelah genap seratus tahun, Dewa Dharma kembali pada Viúvàmitra dan menerima keramahan, dan akhirnya minta waktu istirahat untuk beberapa lama.
  • Viúvàmitra memberkati Gàlava dan mempersilahkan meninggalkan pertapaan.
  • Walaupun Viúvàmitra menyatakan tidak diperlukan Gurudakûióà (persembahan penghormatan kepada guru) namun atas permintaan Gàlava ia menanyakan pula tersebut dan apa yang diinginkan sebagai persembahan tersebut.
  • Viúvàmitra hilang kesabarannya dan meminta Gurudakûióà yang sangat istimewa, yakni delapan ratus kuda yang warnanya seperti bulan, dan seekor telinganya hitam yang patut dijadikan Gurudakûióà.
  • Gàlava terperanjat mendengarkan ucapan gurunya itu, dan saat itu Garuða datang ketempat itu dan mendengarkannya dari Gàlava tentang situasi yang tidak menyenangkan itu.
  • Uang diperlukan untuk membeli banyak kuda dan Gàlava tidak memiliki uang sepeserpun.
  • Bagaimana pun harus diusahakan hal tersebut, Garuða menerbangkan Gàlava dengan menempatkan di punggungnya menuju ke arah timur dan sampai di Gunung Åûabha dan keduanya beristirahat di puncak gunung tersebut.
  • Di sana tinggal juga seorang Bràhmaóa wanita yang sedang melakukan tapa bernama Úàóðilì yang menyajikan makanan untuk mereka.
  • Malam hari Garuða dan Gàlava tidur nyenyak di lantai, namun ketika bangun keesokan harinya, seluruh bulu Garuða rontok.
  • Garuða menghadap Úàóðilì dan memohon maaf atas perlakuannya.
  • Úàóðilì merakhmati Garuða dan saat itu seluruh bulu tubuhnya kembali normal.
  • Melanjutkan perjalanan Garuða bersama Gàlava sampai pada istana raja yang sangat kaya bernama Yayàti.
  • Garuða memperkenalkan Gàlava yang saat itu kesulitan untuk mendapatkan delapan ratus ekor kuda.
  • Namun Yayàti memberikan putrinya bernama Màdhavì kepada Gàlava dan berkata berikan putriku ini kepada raja siapa saja, dan dapatkan uang untuk membeli delapan ratus ekor kuda.
  • Setelah menjelaskan bagaimana caranya mendapatkan uang kepada Gàlava, Garuða pergi ke rumahnya.
  • Pertama Gàlava memberikan Màdhavì kepada Raja Haryaúva dari Ayodhyà, kemudian Raja Divodaúa dari Kàúì, dan selanjutnya kepada Raja Uúìnara dari Bhoja, dan masing-masing dari mereka mendapatkan uang sebanyak pembelian untuk dua ratus kuda dan terakhir Gàlava menyerahkan putri Màdhavì kepada Viúvàmitra sebagai pengganti dua ratus ekor kuda sebagai dakûióà.
  • Seorang anak laki-laki bernama Aûþaka lahir dari perkawinan Viúvàmitra dengan Màdhavì yang diberikan anugrah senantiasa muda dan cantik walaupun ia hidup dengan beberapa laki-laki lainnya (Udyogaparva 108).

(13) Pertempuran antara Garuða dengan Airàvata

  • Úrì Kåûóa suatu hari datang ke Devaloka dan memetik bunga Pàrijàta di taman Nandana, yang mengakibatkan terjadi pertempuran antara Kåûóa dengan Indra, dalam pertempuran tersebut Garuða juga ikut serta (Harivaýúa 73).

(14) Dikalahkan oleh Vàsukì

  • Untuk mengaduk lautan susu (Kûiràróava) para Deva dan Asura memutuskan Gunung Mandara sebagai tiang pengaduknya dan Vàsukì sebagai tali yang akan dipakai alat untuk memutarnya.
  • Usaha yang dilakukan oleh para Deva, Asura, Bhùtagaóa dari Dewa Úiva gagal mengangkat gunung tersebut, di lain pihak Garuða seperti diperintahkan oleh Viûóu mudah saja mengangkat gunung tersebut, yang tampak seperti seekor burung layang-layang mengangkat seekor kodok.
  • Demikian pula ketika yang lainnya gagal membawa Vàsukì dari Nàgaloka, Garuða meminta raja nàga tersebut mengikutinya sampai di Kûiràróava.
  • Vàsukì menyatakan bahwa bila kehadirannya sangat diperlukan, ia meminta supaya ia diangkat dibawa ke sana.
  • Kemudian Garuða mencucuk bagian tengah badan Vàsukì dengan paruhnya dan menerbangkan ke angkasa, dan ketika ia melihat ke bawah, tampak separoh tubuh Vàsukì masih tersisa di tanah.
  • Garuða mencoba melipat tubuh Vàsukì dan mengangkatnya namun tetap gagal.
  • Kecewa dan gagal membawa Vàsukì, Garuða kembali ke lautan susu.
  • Ternyata sesaat kemudian Dewa Úiva dengan tangannya yang panjang mengambil Vàsukì dari Pàtàla dan membawanya dengan sangat ringan ke lautan susu tersebut (Kamba Ràmàyaóa, Yuddhakàóða).

(15) Bhìma mencari bunga Saugandhikà

  • Sementara para Pàóðava dalam pembuangan di hutan, ia tinggal di pertapaan Maharûi Àriûþiseóa.
  • Garuða mengambil seekor nàga bernama Åddhimàn dari tengah laut yang dalam, karena kibasan sayap Garuða bergetar bunga Kalhàrà di taman milik Kubera dan jatuh ke kaki Pàñcalì (Draupadì).
  • Ia mengenakan bunga yang harum tersebut di rambut kepalanya dan mengatakan bahwa memperoleh bunga yang bagus tersebut karena diterbangkan angin.
  • Karena hal tersebut, Bhìma seperti mendapat sindiran dan merasa rendah diri dari angin dan tidak menghargai komentar Pàñcalì.
  • Berkenaan dengan hal tersebut Bhìma bergegas pergi ke Gunung Gandhamàdana untuk mengumpulkan bunga Kalhàrà (Saugandhikà) (Vànaparva 105).

(16) Garuða menyelamatkan Uparicaravasu

  • Suatu hari terjadi kontroversi (pandangan yang bertentangan) antara para Deva dengan para Bràhmaóa.
  • Para Deva menyatakan menggunakan daging kambing sebagai persembahan dalam Yajña, sedang para Bràhmaóa menyatakan puas dengan biji-bijian seperti gandum sebagai persembahan dalam Yajña.
  • Uparicaravasu, yang memutuskan dalam perdebatan memenuhi pernyataan para Deva, dan para Bràhmaóa tidak suka dengan hal tersebut, dan mengutuk Uparicaravasu supaya jatuh dari angkasa dan masuk ke dalam sebuah lubang di bumi.
  • Kutukan tersebut segera dibalas juga dengan kemurahan hati para Deva bahwa selama Uparicaravasu berada di bumi tidak akan pernah merasa lapar dan kembali ke wajahnya semula karena karunia Dewa Viûóu.
  • Uparicaravasu memuja Viûóu, yang mengirim Garuða kepadanya, dan Garuða membawa Vasu ke angkasa melalui sayapnya.
  • Dengan demikian ia kembali sebagai Uparicaravasu (Úàntiparva 338).

(17) Informasi lainnya

  • Suatu hari Dànava mencuri mahkota Úrì Kåûóa yang ketika itu mengunjungi Gunung Gomàtà. Garuða mendapatkan kembali mahkota tersebut dengan menyamar sebagai Dànava dan mengembalikan kepada Úrì Kåûóa (Bhàgavata Puràóa Skanda X).
  • Para Vànara yang mencari Dewi Sìtà sempat mengunjungi tempat kediaman Garuða (Vàl.Ràm. Kiûkindhà Kàóða 40.39).
  • Garuða mengawini empat putri Dakûaprajàpati (Bhàgavata Puràóa Skanda VI).
  • Garuða mempunyai putra bernama Kapota (Udyogaparva 101).
  • Selama berlangsungnya perang antara Ràma dengan Ràvaóa, Lakûmaóa, Sugrìva dan seluruh bala tentara Vànara dipanah dengan panah bius nàgapaúa yang membelit semuanya yang dilepaskan oleh Indrajit. Úrì Ràma kemudian memanggil Garuða yang turun ke bumi dan membunuh semua nàga sampai habis (Kamba Ràmàyaóa, Yuddhakàóða).
  • Garuða hadir pada peringatan hari ulang tahun Arjuna (Àdiparva 122.50).
  • Ketika peringatan hari ulang tahun Subrahmaóya, Garuða menghadiahkan putranya sebagai vahana Subrahmaóya (Anuúàsanaparva 85.21). 

(18) Nama-nama lain Garuða

gäTmaNgä@Sta+yoR vWntey" %geër" -
nagaNtko ivZ,urq" sup,R" pÞgaxn" -- 
Garutmàn Garuðas Tàrkûyo Vainateyaá Khageúvaraá
Nàgàntako Viûóurathaá Suparóaá Pannagàúanaá.

Amarakoúa

Garutmàn, Garuða, Tàrkûya, Vainateya, Khageúvara,
Nàgàntaka, Viûóuratha, Suparóa, dan Pannagàúana.

Nama-nama lain yang digunakan Garuða dalam Mahàbhàrata adalah: Aruóànuja, Bhujagàri, Garutmàn, Kàúyapeya, Khagaràt, Pakûiràja, Patageúvara, Suparóa, Tàrkûya, Vainateya, Vinatànandavardhana, Vinatàsùnu, Vinatàtmaja).

Sebuah buku bernama Garuða Puràóa (merupakan salah satu dari 18 Mahàpuràóa) diyakini merupakan ajaran Mahàviûóu yang diberikan kepada Garuða. Terdiri dari delapan belas ribu úloka. Ada pendapat yang menyatakan bahwa hanya Tàrkûyakalpa yang merupakan wejangan Mahàviûóu. Tema utamanya adalah kelahiran Garuða dari Brahmàóða. Apabila kitab ini diberikan sebagai hadiah hendaknya diikuti pula dengan arca emas dalam bentuk angsa (Agni Puràóa 272).


baca juga :


Ringkasan Mahabharata Parwa 18 - Svargarohanika Parva


baca juga cerita-cerita sisipan yang terjadi, antara lain: 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar